Pasarnarasi.com – Pasar properti Indonesia kembali menunjukkan geliat positif di awal 2025. Salah satu faktor utama yang mendorong tren ini adalah kebijakan insentif pajak yang dirancang pemerintah untuk mendukung pembelian rumah, khususnya bagi segmen menengah. Langkah ini tidak hanya meningkatkan minat beli masyarakat, tetapi juga menghadirkan peluang bagi pengembang dan investor properti.
Menurut data terbaru dari Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Indonesia (APERSI), transaksi properti di segmen menengah mengalami peningkatan sekitar 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya pembeli yang memanfaatkan keringanan pajak, baik berupa pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) maupun pembebasan PPN bagi rumah pertama.
“Kebijakan insentif pajak ini benar-benar mendorong masyarakat untuk membeli rumah yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Segmen menengah kini memiliki akses lebih mudah terhadap properti yang berkualitas dengan harga terjangkau,” ungkap Ketua APERSI, Rudi Hartono.
Para pembeli rumah segmen menengah kini menikmati keuntungan ganda. Selain harga yang lebih terjangkau karena insentif pajak, fasilitas rumah juga semakin lengkap. Banyak pengembang menawarkan rumah dengan desain modern, lingkungan ramah keluarga, serta fasilitas pendukung seperti taman bermain, pusat olahraga, dan akses transportasi yang strategis. Hal ini menjadikan rumah di segmen menengah lebih menarik bagi keluarga muda maupun pekerja profesional. Pengembang properti pun merespons dengan menghadirkan lebih banyak proyek yang memenuhi kriteria ini.
“Kami melihat permintaan meningkat signifikan. Oleh karena itu, kami menyiapkan beberapa proyek perumahan menengah dengan harga kompetitif, namun tetap menawarkan kualitas bangunan dan fasilitas yang memadai,” kata Direktur Pemasaran PT Mitra Properti Indonesia, Andi Santoso.
Selain itu, kebijakan pajak ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Proyek perumahan baru menciptakan lapangan kerja, mulai dari pekerja konstruksi hingga tenaga pemasaran, sekaligus meningkatkan permintaan akan bahan bangunan, furniture, dan layanan pendukung lainnya. Ekonomi daerah pun ikut terdongkrak karena pengembangan properti sering berdampak pada infrastruktur lokal, seperti perbaikan jalan, fasilitas umum, dan area komersial.
Para analis properti menilai bahwa tren positif ini dapat bertahan sepanjang tahun 2025. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya memiliki rumah sendiri sebagai aset jangka panjang dan perlindungan nilai terhadap inflasi. Insentif pajak menjadi stimulus yang tepat untuk mendorong keputusan pembelian, terutama di segmen menengah yang sebelumnya mungkin menghadapi keterbatasan dana atau hambatan finansial. Namun, para pakar juga mengingatkan pentingnya strategi bijak bagi pembeli.
“Meskipun insentif pajak sangat menarik, pembeli tetap harus memperhatikan lokasi, kualitas bangunan, dan potensi nilai properti ke depan. Jangan hanya tergiur harga murah,” kata pengamat properti, Lisa Pranata.
Sementara itu, pemerintah terus memantau efektivitas kebijakan ini. Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), program insentif pajak diharapkan tidak hanya mendorong penjualan rumah menengah, tetapi juga memastikan penyediaan perumahan yang layak dan terjangkau bagi masyarakat luas.
“Kami ingin masyarakat mendapatkan rumah yang nyaman, aman, dan sesuai dengan kemampuan finansial mereka. Ini bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Dirjen Perumahan, Irfan Maulana.
Tidak hanya pembeli perorangan, investor juga memanfaatkan momentum ini. Permintaan yang meningkat menciptakan peluang bagi investor untuk membeli rumah segmen menengah dengan potensi sewa atau nilai jual kembali yang stabil. Hal ini membuat segmen menengah menjadi pilihan yang menarik bagi pasar properti jangka panjang.
Dengan lonjakan minat beli, pasar properti menengah kini kembali hidup dan dinamis. Keuntungan lebih, fasilitas lengkap, serta dukungan kebijakan pajak menjadi kombinasi ideal yang mendorong pertumbuhan sektor properti di Indonesia. Segmen menengah bukan hanya mencerminkan kebutuhan hunian yang layak, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi, membuka peluang investasi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Kehidupan perkotaan pun diprediksi semakin bergairah dengan hadirnya rumah-rumah baru yang modern dan nyaman. Jika tren ini terus berlanjut, segmen properti menengah akan tetap menjadi fokus utama pengembang dan pilihan ideal bagi masyarakat yang ingin memiliki hunian berkualitas dengan harga terjangkau.
Dengan adanya kombinasi kebijakan pajak, peningkatan fasilitas, dan respons cepat dari pengembang, pasar properti Indonesia memasuki fase optimistis, menandai era baru bagi pertumbuhan hunian segmen menengah di tahun 2025.