Pasarnarasi.com – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) bekerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar workshop bertajuk ‘Deteksi Dini Perundungan di Sekolah’ yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan kemampuan guru serta tenaga pendidik dalam mencegah kekerasan atau bullying sejak dini di lingkungan sekolah. Kegiatan ini berlangsung di Aula Unusa dengan partisipasi puluhan tenaga pendidik dari berbagai sekolah di wilayah Jawa Timur.
Workshop ini menjadi salah satu langkah nyata dalam menanggapi tingginya kasus perundungan di sekolah yang berdampak pada psikologis dan prestasi akademik siswa. Menurut data survei pendidikan, kasus bullying di sekolah terus meningkat, baik fisik maupun verbal, sehingga dibutuhkan strategi pencegahan yang sistematis dan berbasis kolaborasi. Ketua ISNU, Dr. Ahmad Fauzi, menyampaikan dalam sambutannya bahwa pendidikan tidak hanya soal transfer ilmu, tapi juga soal membentuk karakter dan lingkungan yang aman bagi anak-anak.
“Perundungan bukan sekadar masalah anak, tapi refleksi budaya sekolah dan pola asuh di rumah. Deteksi dini menjadi kunci agar dampak psikologis bisa diminimalkan,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unusa, Prof. Dr. Siti Rahmawati, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif antara guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan komunitas untuk menciptakan sekolah ramah anak.
“Workshop ini mengajarkan metode praktis untuk mengenali tanda-tanda perundungan, baik yang tampak maupun terselubung. Kami berharap para peserta pulang dengan kemampuan menganalisis situasi, intervensi yang tepat, dan strategi pencegahan yang efektif,” jelas Prof. Siti.
Materi workshop meliputi beberapa sesi penting, antara lain:
- Pengenalan Jenis Perundungan: fisik, verbal, sosial, dan siber, lengkap dengan contoh kasus nyata.
- Metode Deteksi Dini: cara mengenali perilaku anak yang menjadi korban atau pelaku perundungan.
- Strategi Intervensi dan Pencegahan: teknik komunikasi, pembentukan aturan sekolah, hingga kampanye anti-bullying.
- Kolaborasi Orang Tua dan Komunitas: menekankan peran keluarga dan masyarakat dalam membentuk perilaku positif anak.
Sesi praktikum juga diadakan, di mana peserta diajak melakukan simulasi deteksi perundungan dan merancang rencana intervensi. Praktik langsung ini mendapat apresiasi tinggi karena memberikan pengalaman nyata bagi para guru dalam menangani kasus di lapangan.
Selain materi edukatif, workshop ini juga menyoroti pentingnya dukungan psikologis untuk korban dan pelaku perundungan, serta menekankan peran guru sebagai pengawas sekaligus mentor. Kegiatan ini menjadi forum diskusi interaktif, sehingga para peserta bisa berbagi pengalaman, kendala, dan strategi yang telah diterapkan di sekolah masing-masing.
Para peserta menyambut positif kegiatan ini. Seorang guru SMP dari Surabaya, Laila Nurhadi, mengatakan, “Workshop ini membuka mata kami tentang tanda-tanda bullying yang sering terlewatkan. Selain itu, strategi kolaboratif yang diajarkan sangat aplikatif di sekolah kami.”
Workshop ini menjadi salah satu contoh bagaimana lembaga pendidikan dan organisasi profesional dapat bekerja sama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak secara optimal. ISNU dan Unusa berkomitmen untuk terus menggelar program serupa secara berkala, agar deteksi dini perundungan menjadi budaya di setiap sekolah.
Dengan kegiatan ini, diharapkan generasi muda dapat belajar dan berkembang tanpa rasa takut, serta guru dan orang tua memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya pencegahan bullying sejak awal. Upaya ini menjadi langkah konkret membangun pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara psikologis dan sosial.
