Pasarnarasi.com – Geliat bisnis di Pasar Tekstil Cipadu, salah satu pusat perdagangan bahan tekstil terbesar di Tangerang, Banten, makin melambat. Para pedagang mengeluhkan turunnya jumlah pembeli secara signifikan sepanjang tahun lalu, menyisakan suasana yang sepi dan omzet yang menyusut drastis dibandingkan masa lalu ketika pasar ini menjadi magnet pembeli dari Jakarta dan sekitarnya.
Omzet Pedagang Merosot Tajam
Beberapa pedagang mengungkapkan bahwa penurunan omzet hampir tak terelakkan. Sepinya kunjungan pembeli membuat jumlah transaksi harian jauh di bawah ekspektasi. Bahkan, seorang pedagang kain yang telah puluhan tahun berjualan di Cipadu mengatakan bahwa hasil penjualan mampu mencapai jutaan rupiah per hari di masa kejayaan, tetapi kini hanya berkisar ratusan ribu saja atau bahkan tidak ada pembeli sama sekali.
“Sebelumnya bisa sampai Rp 5 juta per hari, sekarang paling dapat Rp 500 ribu pun susah,” ujar seorang pedagang yang tidak ingin disebut namanya, menunjukkan betapa drastisnya penurunan omset di pasar tersebut.
Berita lokal sebelumnya juga mencatat penurunan omzet pedagang grosir di Pasar Cipadu mencapai hingga 90 persen, menandakan bahwa dampaknya merata di berbagai jenis usaha, bukan sekadar pedagang eceran saja.
Kondisi Pasar yang Sepi
Pantauan di lokasi memperlihatkan banyak kios yang tertata rapi namun tampak lengang. Banyak pedagang menghabiskan waktu menunggu pembeli yang tak kunjung datang, sementara sebagian lagi memilih untuk berbincang atau menyeruput kopi di depan toko. Situasi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu ketika area pasar ramai oleh aktivitas jual‑beli.
Pedagang mengaitkan sepinya pasar sebagian besar dengan alihnya perilaku konsumen ke belanja online. Fenomena live shopping dan marketplace yang menawarkan kemudahan serta diskon besar‑besaran menjadi fenomena yang tak terelakkan di pasar konvensional seperti Cipadu. Upaya para pedagang untuk ikut berjualan di platform digital pun belum membuahkan hasil signifikan, karena persaingan di ranah online sangat ketat dan biaya pemasaran tinggi.
Tekanan Industri Tekstil Secara Umum
Kondisi di Pasar Tekstil Cipadu juga mencerminkan tantangan yang lebih luas di industri tekstil Indonesia. Sektor ini menghadapi tekanan dari impornya barang tekstil murah dan pakaian bekas dari negara lain, yang kian mengikis pangsa pasar produk lokal baik di tingkat manufaktur maupun perdagangan tradisional. Data statistik menunjukkan lonjakan impor produk tekstil dan pakaian bekas dalam beberapa tahun terakhir, yang turut memperlemah permintaan terhadap produk domestik termasuk di pasar tradisional.
Selain itu, industri tekstil nasional belum sepenuhnya pulih dari dampak pelambatan permintaan global dan tantangan pasar ekspor, meskipun pemerintah tengah menggulirkan berbagai kebijakan untuk mendorong stabilitas dan pertumbuhan industri ini.
Ancaman Persaingan dan Masa Depan Cipadu
Pedagang serta pengamat pasar menilai bahwa tanpa inovasi dan adaptasi terhadap tren konsumsi modern, Pasar Tekstil Cipadu akan terus kehilangan daya tariknya. Para pedagang menyarankan perlunya kolaborasi antara stakeholder pasar, pemerintah daerah, dan platform digital untuk menciptakan strategi pemasaran yang lebih efektif. Upaya ini dianggap penting untuk kembali menarik pelanggan, baik dari konsumen lokal maupun wilayah lain. Selain itu, penataan infrastruktur dan fasilitas penunjang di sekitar pasar juga dinilai dapat memperbaiki pengalaman berbelanja di lokasi fisik.
Geliat bisnis di Pasar Tekstil Cipadu terus melambat akibat kombinasi sepinya pembeli, meningkatnya persaingan daring, serta tantangan struktural dalam industri tekstil. Turunnya omzet para pedagang mencerminkan kebutuhan mendesak akan inovasi dan strategi baru agar pasar tradisional tetap relevan di era digital. Tanpa langkah adaptasi yang kuat, pasar tekstil legendaris ini berisiko semakin kehilangan posisi pentingnya dalam ekosistem perdagangan lokal dan nasional.
