Pasarnarasi.com – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Kalimantan Barat menilai iklim properti di Kalbar masih menunjukkan tren pertumbuhan positif. Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan dinamika kebijakan, sektor perumahan dinilai tetap bertahan dan bahkan mengalami penguatan, terutama didorong oleh tingginya permintaan rumah, dukungan kebijakan pemerintah, serta optimisme pasar.
Ketua APERSI Kalbar menyampaikan bahwa kebutuhan hunian di Kalimantan Barat masih sangat besar, khususnya untuk rumah pertama dan rumah subsidi. Pertumbuhan jumlah penduduk, urbanisasi, serta kebutuhan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menjadi faktor utama yang menjaga pergerakan sektor properti tetap stabil.
“Permintaan rumah di Kalbar relatif konsisten. Ini menjadi indikator kuat bahwa sektor properti masih memiliki fondasi yang sehat,” ujarnya.
Permintaan Rumah Tetap Menjadi Motor Utama
Menurut APERSI Kalbar, segmen perumahan menengah ke bawah masih menjadi penggerak utama pertumbuhan properti di daerah. Program perumahan subsidi dan skema pembiayaan yang terjangkau membantu masyarakat untuk tetap memiliki akses terhadap hunian. Selain itu, minat generasi muda untuk memiliki rumah sendiri juga mulai meningkat, seiring dengan kesadaran akan pentingnya aset jangka panjang.
Di beberapa wilayah Kalbar, pengembangan kawasan perumahan baru juga terus dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar. Lokasi yang strategis, akses jalan yang semakin baik, serta kedekatan dengan pusat aktivitas ekonomi menjadi faktor penentu minat konsumen. Hal ini turut menciptakan efek berantai bagi sektor lain, seperti konstruksi, bahan bangunan, dan jasa pendukung.
Dukungan Kebijakan Jadi Penopang Penting
APERSI Kalbar menilai dukungan kebijakan pemerintah menjadi salah satu faktor krusial yang menjaga iklim properti tetap kondusif. Kebijakan terkait perumahan rakyat, kemudahan perizinan, serta insentif bagi pengembang dinilai memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk terus berinvestasi.
Selain itu, kebijakan pembiayaan perumahan yang pro-konsumen juga berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Skema kredit pemilikan rumah (KPR) dengan suku bunga kompetitif dan tenor panjang membantu masyarakat merencanakan kepemilikan rumah dengan lebih realistis. APERSI berharap kebijakan-kebijakan ini dapat terus dilanjutkan dan disempurnakan agar dampaknya semakin terasa di daerah.
Optimisme Pasar di Tengah Tantangan
Meski menghadapi tantangan seperti kenaikan biaya bahan bangunan dan penyesuaian regulasi, pelaku usaha properti di Kalbar tetap menunjukkan optimisme pasar. APERSI Kalbar menilai bahwa pelaku industri kini lebih adaptif, dengan menyesuaikan desain, ukuran, dan harga rumah agar tetap sesuai dengan kebutuhan konsumen.
“Inovasi menjadi kunci. Pengembang tidak hanya menjual rumah, tetapi juga menawarkan lingkungan yang nyaman, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern,” jelas perwakilan APERSI. Konsep hunian ramah lingkungan, efisiensi ruang, dan fasilitas pendukung mulai menjadi nilai tambah yang dicari pembeli.
Optimisme ini juga tercermin dari minat investor lokal yang masih melihat sektor properti sebagai instrumen investasi jangka panjang yang relatif stabil. Properti dinilai memiliki ketahanan terhadap fluktuasi ekonomi, terutama untuk kebutuhan hunian dasar.
Dampak Ekonomi dan Harapan ke Depan
Pertumbuhan sektor properti memberikan dampak luas bagi perekonomian Kalimantan Barat. Selain membuka lapangan kerja, sektor ini juga mendorong perputaran ekonomi di berbagai bidang, mulai dari konstruksi hingga jasa. APERSI Kalbar menilai bahwa sektor properti memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Ke depan, APERSI Kalbar berharap sinergi antara pemerintah daerah, pengembang, perbankan, dan masyarakat dapat terus diperkuat. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan iklim usaha yang kondusif, sektor properti di Kalbar diyakini mampu tumbuh berkelanjutan dan menjawab kebutuhan hunian masyarakat.
APERSI Kalbar menegaskan bahwa iklim properti di Kalimantan Barat masih tumbuh positif, didorong oleh permintaan rumah yang stabil, dukungan kebijakan pemerintah, dan optimisme pelaku pasar. Meski tantangan tetap ada, sektor properti dinilai memiliki daya tahan dan prospek cerah untuk terus berkembang, sekaligus menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi daerah.
