Presiden Lee Jae-myung Akui Teknologi Korsel Kalah Tertinggal dari China

Presiden Lee Jae-myung Akui Teknologi Korsel Kalah Tertinggal dari China

Pasarnarasi.comPresiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, secara terbuka mengakui bahwa negara itu tertinggal dalam beberapa sektor teknologi strategis dibanding China. Pernyataan ini disampaikan dalam forum ekonomi dan teknologi nasional, yang menyoroti urgensi bagi Korsel untuk mempercepat inovasi, riset, dan pengembangan industri modern agar tetap kompetitif di kancah global.

Pengakuan yang Mengejutkan Dunia Teknologi

Korea Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu pusat inovasi teknologi dunia, terutama dalam bidang semikonduktor, elektronik konsumen, dan telekomunikasi. Namun, Presiden Lee menekankan bahwa beberapa sektor teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan (AI), teknologi baterai, dan kendaraan listrik, kini dikuasai oleh China. Hal ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan industri lokal agar tidak terlena dengan reputasi masa lalu.

“China telah melakukan investasi besar dan strategi jangka panjang di bidang teknologi. Korea Selatan harus merespons dengan kebijakan yang lebih agresif dan inovatif,” ujar Lee Jae-myung.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kompetisi teknologi global tidak lagi sebatas inovasi semata, tetapi juga tentang kemampuan riset, manufaktur, dan kolaborasi industri.

Dorongan Kebijakan Riset dan Inovasi

Menanggapi situasi ini, pemerintah Korea Selatan merencanakan serangkaian kebijakan strategis untuk mendorong riset dan inovasi. Fokus utama meliputi:

  • Peningkatan dana riset dan pengembangan (R&D) untuk sektor teknologi kritis.
  • Kolaborasi antara universitas, laboratorium, dan perusahaan teknologi guna menciptakan ekosistem inovasi terpadu.
  • Program pelatihan dan pengembangan talenta digital agar sumber daya manusia mampu bersaing di sektor teknologi tinggi.

Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi juga membangun fondasi jangka panjang untuk industri masa depan seperti AI, kendaraan listrik, robotika, dan teknologi baterai canggih.

Peran Industri dan Swasta

Lee Jae-myung menekankan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Industri swasta memiliki peran vital dalam mengimplementasikan teknologi baru, mempercepat komersialisasi, dan memperkuat posisi Korea Selatan di pasar global. Perusahaan besar, termasuk produsen chip dan otomotif, diminta berinvestasi lebih agresif dalam inovasi dan produksi teknologi strategis.

“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta adalah kunci untuk menciptakan ekosistem teknologi yang berkelanjutan dan mampu bersaing dengan China maupun negara maju lainnya,” tegas Lee.

Tantangan dan Peluang di Era Kompetisi Global

Meski tantangan besar menghadang, Lee melihat peluang signifikan bagi Korea Selatan. Ketertinggalan dari China dapat dijadikan pemicu inovasi baru, memperkuat investasi, dan menciptakan lapangan kerja di sektor teknologi modern. Dengan strategi yang tepat, Korea Selatan berpotensi menjadi pemain utama di era ekonomi digital dan teknologi canggih.

Namun, Lee juga mengingatkan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, karena perlambatan inovasi bisa mengakibatkan posisi kompetitif negara terus menurun.

Pernyataan Presiden Lee Jae-myung menjadi pengingat bagi Korea Selatan bahwa meskipun memiliki reputasi teknologi yang kuat, dunia bergerak cepat, dan China menunjukkan dominasi di beberapa sektor strategis. Dengan kebijakan riset yang agresif, kolaborasi industri, dan inovasi berkelanjutan, Korea Selatan berharap dapat mengejar ketertinggalan dan membangun industri modern yang tangguh di era globalisasi teknologi.