Pasarnarasi.com – Insiden yang awalnya viral dan sempat memicu kritik publik kini berakhir dengan langkah damai dari aparat keamanan. TNI dan Polri resmi menyampaikan permintaan maaf kepada pedagang es kue jadul yang sempat viral, sekaligus memberikan bantuan nyata untuk mendukung kelangsungan usahanya. Peristiwa yang awalnya dianggap kontroversial ini kini menjadi pelajaran penting di tengah sorotan masyarakat luas terkait tindakan aparat di lapangan.
Kronologi Kejadian
Peristiwa bermula ketika video yang menunjukkan seorang pedagang es kue jadul alias es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat viral di media sosial. Dalam video tersebut, aparat TNI dan Polri mencurigai dagangan sang penjual, Sudrajat, sebagai es berbahan spons atau bahan berbahaya, sehingga dilakukan penyidikan dan pemeriksaan di lokasi. Tuduhan itu kemudian memicu reaksi keras dari netizen dan masyarakat, karena dianggap berlebihan serta merugikan citra pedagang kecil yang mencari nafkah secara halal.
Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium oleh pihak berwenang, hasilnya menyatakan bahwa semua sampel es kue yang dijual aman dan layak dikonsumsi. Tidak ditemukan bahan berbahaya seperti yang sempat diduga. Menteri TNI dan Polri kemudian ikut menanggapi dinamika ini dengan sikap yang lebih proporsional.
Permintaan Maaf dan Bantuan Langsung
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, aparat dari Kodim 0501/Jakarta Pusat dan Polres Metro Jakarta Pusat mendatangi kediaman Sudrajat di Bojonggede, Kabupaten Bogor. Dalam pertemuan itu, sejumlah pejabat TNI dan Polri secara langsung menyampaikan permohonan maaf secara tulus dan ikhlas kepada Sudrajat atas kesalahpahaman yang terjadi. Selain permintaan maaf, aparat juga menyerahkan berbagai bantuan untuk mendukung usaha pedagang tersebut.
Bantuan yang diberikan berupa 1 unit kulkas, 1 unit dispenser, serta 1 unit kasur springbed untuk membantu kegiatan usahanya sehari-hari, serta dorongan moral agar Sudrajat bisa bangkit dari insiden ini. Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Dandim 0501/Jakarta Pusat Kolonel Inf Ahmad Alam Budiman, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra, Babinsa Serda Heri Purnomo, dan Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi.
Selain itu, Kapolres Metro Depok, Kombes Abdul Waras, juga mengunjungi rumah Sudrajat dan memberikan bantuan berupa sepeda motor dan modal usaha tambahan sebuah langkah yang diharapkan dapat membantu meningkatkan mobilitas dan pemasukan pedagang tersebut dalam jangka panjang.
Respons Resmi dari Polda Metro Jaya dan TNI
Polda Metro Jaya melalui Kabid Humas Kombes Budi Hermanto secara resmi meminta maaf kepada publik atas tindakan personel yang dinilai kurang tepat dan menimbulkan persepsi negatif. Ia menegaskan bahwa tujuan awal tindakan aparat adalah memberikan edukasi dan memastikan keamanan pangan, namun menyadari langkah tersebut kurang bijak sehingga menimbulkan kontroversi.
Sementara itu, pihak TNI AD juga merespons peristiwa ini dengan harapan bahwa masalah tidak akan berlarut dan tidak menimbulkan dampak berkepanjangan terhadap aparat atau masyarakat. Mereka menyatakan akan melakukan evaluasi dan pembinaan internal untuk menjaga agar tindakan sejenis tidak terulang di masa depan.
Lebih jauh lagi, Babinsa yang terlibat, Serda Heri Purnomo, telah dijatuhi sanksi disiplin oleh TNI sebagai bentuk penegakan aturan internal atas kesalahan prosedur yang terjadi. Langkah ini dinilai penting untuk memperbaiki citra institusi serta menambah kepercayaan publik terhadap aparat keamanan.
Dampak pada Publik dan UMKM
Kasus ini menyita perhatian luas karena menyentuh dua ranah penting: perlindungan konsumen dan dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Polda Metro Jaya menegaskan bahwa kepolisian tidak berniat menghambat UMKM, dan akan terus mendukung aktivitas wirausaha masyarakat secara aman dan profesional.
Sementara itu, warganet menanggapi aksi permintaan maaf dan bantuan ini dengan berbagai reaksi, mulai dari apresiasi hingga kritik terhadap cara awal aparat menangani kasus tersebut. Namun secara umum, langkah permintaan maaf dan pemberian bantuan dianggap sebagai bentuk respons cepat yang menunjukkan bahwa institusi TNI dan Polri mau belajar dari kesalahan serta memperbaiki hubungan dengan masyarakat.
